Profile Facebook Twitter My Space Friendster Friendfeed You Tube
Dharma Pendidikan Kompasiana MSN Indonesia Bisnis Indonesia Kompas Republika Tempo Detiknews Media Indonesia Jawa Pos Okezone Yahoo News New York Times Times Forbes
Google Yahoo MSN
Bank Indonesia Bank Mandiri BNI BCA BRI Cimb Niaga BII
Hariyono.org Education Zone Teknologi Informasi Ekonomi Mikro Ekonomi Makro Perekonomian Indonesia KTI-PTK Akuntansi Komputer Media Pend.Askeb Media Bidan Pendidik Materi Umum Kampus # # #
mandikdasmen Depdiknas Kemdiknas BSNP Kamus Bhs Indonesia # # # # # #
Affiliate Marketing Info Biz # # # # # # # # #
Bisnis Online Affilite Blogs Affiliate Program Affiliate Marketing # # # # # # # # #

Wednesday, September 22, 2010 | 12:47 PM | 0 Comments

"Ekonomi Mikro & Makro Harus Digabung"

 Rheza Andhika Pamungkas - Okezone

Demi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sektor mikro dan makro harus dikombinasikan agar berjalan seimbang.
Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah kepada wartawan saat menghadiri acara kajian tengah tahun INDEF 2010 dengan tema kerentanan mikroekonomi di balik stabilitas makroekonomi, di Hotel Atlet Century Senayan, Jakarta, Kamis (29/7/2010).
"Tidak mungkin menyerahkan semuanya kepada BI. Kita perlu perkenalkan kombinasi mikro dan makro. Baru-baru ini Gubernur BI terpilih Darmin Nasution memperkenalkan konsep penggabungan mikro dan makro di sektor perbankan yakni mengabungkan antara Giro Wajib Minimum (makro) dengan Loan to Deposit Ratio/rasio pertumbuhan kredit perbankan (mikro) yang perlu dikelola oleh bank umum," jelasnya.
Namun selanjutnya, yang menjadi masalah lain apakah bank jika didorong untuk memberikan kredit dapat menaikkan kreditnya jika sisi permintaan tidak dinaikkan. "Inilah yang menjadi tantangan terbesar perbankan saat ini," tambahnya.
Menurutnya, peran stimulus fiskal sangat mutlak dibutuhkan untuk mendorong ekonomi. Selain itu ia juga mengungkapkan bahwa kebijakan GWM LDR adalah kebijakan yang netral. "Dengan disinsentif dan insentif. Jika berjalan, dampaknya ke ekspansi moneter itu jadi netral," tambahnya.
Menurutnya, dengan menggabungkan sektor makro dan mikro, industri manufaktur harus jadi penyumbang terbesar untuk dapat membalikkan deindustrialisasi.
"Untuk sektor perbankan, bagaimana industri ini diminati oleh perbankan untuk diberikan kredit? Makanya inilah yang menjadi alasan bagi BI untuk memberikan kebijakan GWM LDR tersebut," jelasnya.
Akan tetapi, lanjutnya, ada suatu upaya dari pemerintah untuk meningkatkan pengawasan fungsi pengawasan perbankan. "Kita (BI) tidak tahu bahwa ada suatu upaya pemisahan antara makro dan mikro," sindirnya mengakhiri.(ade)

Artikel Terkait:

 
Copyright © 2010 - All right reserved by Ekonomi Mikro | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by h4r1
Proudly powered by Blogger.com | Best view on mozilla, internet explore, google crome, flock and opera.